Kota Biak Dilanda Kabut Asap, Warga Resah hingga Layanan Publik Terganggu

Terkini 24 Aug 2026 13:30 4 min read 34 views By HDK

Share berita ini

Kota Biak Dilanda Kabut Asap, Warga Resah hingga Layanan Publik Terganggu
Foto : HDK/Waironnews.com

Biak, Waironnews.com — Kabupaten Biak Numfor diterpa kabut asap tebal sejak Minggu (23/8/2026), menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik.

 

Kondisi ini memperburuk kualitas udara, mengganggu aktivitas warga, serta memaksa aparat dan petugas darurat bekerja siang-malam untuk menahan laju kebakaran.

 

Kondisi Terkini dan Sebaran Titik Api Kombinasi cuaca panas ekstrem sebagai dampak fenomena El Niño dan angin yang kencang memicu munculnya sekitar 167 titik api (hotspot) yang tersebar di delapan distrik di wilayah Biak Numfor.

 

Distrik yang paling terdampak antara lain Biak Kota, Samofa, Yendidori, dan Biak Utara. Petugas mencatat beberapa titik kebakaran mengalami intensitas tinggi. Di Distrik Yendidori, kebakaran sempat meluas hingga ke area belakang Puskesmas Yendidori dan berdekatan dengan kantor distrik sebelum upaya pemadaman berhasil menahan lajunya api.

 

Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Biak Numfor, Kepolisian Resor Biak Numfor, Satuan Pemadam Kebakaran, serta prajurit TNI dikerahkan secara intensif untuk melakukan penyisiran, pemadaman, dan upaya pendinginan pada titik-titik panas yang tersisa.

 

Upaya Penanganan dan Mobilisasi Pihak berwenang menerapkan sejumlah langkah penanganan darurat, antara lain: Koordinasi lintas sektor antara BPBD, TNI, Polri, Damkar, dan instansi terkait untuk pemadaman serta pengamanan wilayah terdampak. patroli wilayah rawan guna memantau pergerakan api serta melakukan evakuasi bila diperlukan.

 

Kutipan Pejabat Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau ekstrem ini.

 

"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau membakar semak dan sampah. Langkah sederhana itu dapat menyelamatkan rumah, lahan pertanian, dan nyawa warga," ujarnya.

 

Kepala BPBD Kabupaten Biak Numfor menyatakan pihaknya terus memantau titik panas yang tersisa dan memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk menekan penyebaran api.

 

Dampak terhadap Kesehatan dan Layanan Publik Kabut asap pekat telah memasuki area perkotaan sehingga menurunkan kualitas udara secara drastis. Warga melaporkan tingginya kepadatan antrian di apotek dan toko obat untuk membeli masker serta obat-obatan pernapasan.

 

Klinik-klinik lokal menerima peningkatan kunjungan pasien dengan gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), terutama anak-anak dan lansia. Dampak lain yang tercatat: Aktivitas sekolah dan perkantoran mengalami penyesuaian; beberapa institusi menunda kegiatan di luar ruangan.

 

Penglihatan dan jarak pandang menurun, menimbulkan risiko dalam lalu lintas darat dan laut. Sektor ekonomi lokal, termasuk pasar dan pelayaran perikanan kecil, mengalami gangguan operasional.

 

Kebijakan Pemerintah Daerah Sebagai respons, Pemkab Biak Numfor mengeluarkan beberapa kebijakan darurat: Larangan keras pembakaran lahan, semak, dan sampah selama cuaca ekstrem berlangsung. Imbauan pembatasan kegiatan di luar ruangan dan penggunaan masker pelindung di ruang terbuka.

 

Siaga penyediaan bantuan kesehatan dan distribusi masker di titik-titik keramaian dan fasilitas publik. Siaga Warga dan Rekomendasi Kesehatan Bagi warga yang berada di daerah terdampak disarankan: Mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi dan sore saat kualitas udara cenderung memburuk.

 

Menggunakan masker respirator (mis. N95) jika harus berada di luar; jika masker tersebut tidak tersedia, gunakan masker kain berlapis sebagai alternatif sementara. Menutup jendela dan ventilasi ruang rumah bila memungkinkan, serta memasang penyaring udara sederhana untuk rumah tangga berisiko. Segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala ISPA berat seperti sesak napas, demam tinggi, atau batuk berdahak berlanjut.

 

Tinjauan Penyebab dan Upaya Jangka Panjang Para ahli lingkungan mencatat fenomena El Niño meningkatkan frekuensi dan intensitas musim kemarau ekstrem, sehingga memperbesar risiko kebakaran lahan di wilayah tropis seperti Papua. Selain penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, upaya jangka panjang diperlukan berupa: Program restorasi lahan dan pengelolaan gambut jika relevan, serta perbaikan tata guna lahan. Peningkatan kapasitas deteksi dini melalui pengawasan hotspot berbasis satelit dan patroli lokal. Kampanye edukasi publik berkelanjutan tentang risiko pembakaran lahan dan tindakan pencegahan. Penutup Kondisi ini menjadi ujian bagi kapasitas penanggulangan bencana daerah dan kesadaran kolektif masyarakat.

 

Penegakan larangan membakar lahan dan kepatuhan publik akan menjadi kunci untuk mereduksi risiko lanjutan.

 

Pemerintah daerah dan aparat terkait diminta terus meningkatkan koordinasi, sementara masyarakat diimbau aktif melaporkan potensi kebakaran dan mematuhi imbauan keselamatan.

 

Opini Redaksi.

HDK

Wairon News
Chat with us on WhatsApp