Usai FBMW, Pemkab Biak Perkuat Langkah Menuju Destinasi Wisata Unggulan
Biak, Waironnews.com — Gemerlap panggung Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 telah berakhir. Namun, bagi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, berakhirnya festival budaya tersebut justru menjadi awal untuk menata langkah berikutnya dalam mengembangkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah.
Evaluasi pasca-penyelenggaraan festival menjadi perhatian utama pemerintah. Bukan lagi sekadar menghitung jumlah penampilan seni atau ramainya pengunjung yang memadati lokasi acara, tetapi menilai sejauh mana penyelenggaraan FBMW benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama pelaku usaha lokal.
Penutupan Festival BMW 2026 digelar Lapangan Cendrawasih Biak, (07/7/2026) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, mengatakan pemerintah telah menyiapkan empat arah kebijakan yang akan menjadi fokus pengembangan pariwisata setelah FBMW 2026.
Menurut dia, langkah pertama adalah memperkuat pelestarian budaya Biak agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kekayaan tradisi dan kearifan lokal dinilai harus terus dijaga sekaligus dikemas lebih menarik sehingga mampu menjadi daya tarik wisata tanpa kehilangan nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.
Selain menjaga budaya, pemerintah juga ingin memastikan geliat pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Karena itu, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama yang dikelola Orang Asli Papua (OAP), menjadi agenda berikutnya.
Produk-produk lokal diharapkan tidak hanya dipamerkan saat festival berlangsung, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas dan memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga terus membangun citra Biak sebagai destinasi wisata unggulan di Tanah Papua yang memiliki daya saing hingga tingkat nasional bahkan kawasan Pasifik. Upaya tersebut dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan agar wisatawan merasa aman, nyaman, dan memperoleh pengalaman positif selama berada di Biak.
"Festival ini merupakan salah satu instrumen penggerak ekonomi daerah. Semakin banyak wisatawan datang ke Biak, semakin besar pula dampak yang dirasakan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, transportasi, perhotelan hingga sektor jasa lainnya. Di tengah tantangan ekonomi saat ini, pariwisata menjadi salah satu kekuatan yang harus terus didorong," kata Turbey.
Ia menegaskan, keberhasilan festival ke depan tidak hanya diukur dari kemeriahan penyelenggaraan. Yang lebih penting adalah dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Indikator seperti kenaikan omzet UMKM, tingkat hunian hotel, aktivitas transportasi, hingga bertambahnya pendapatan warga akan menjadi bagian dari evaluasi pemerintah.
Bagi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, FBMW bukan sekadar agenda budaya tahunan. Festival tersebut diposisikan sebagai instrumen pembangunan yang menghubungkan pelestarian budaya dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar setiap penyelenggaraan festival menghadirkan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi Biak sebagai destinasi pariwisata unggulan di Indonesia bagian timur.
HDK
Related Articles